beritax.id – Negara perlu redesain menjadi sorotan ketika peran mahasiswa dalam perubahan bangsa kembali dipertanyakan di ruang publik. Mahasiswa kerap diharapkan sebagai kekuatan moral yang mampu mengoreksi arah kekuasaan negara. Harapan itu berakar pada sejarah gerakan 1966 dan 1998 yang mengguncang pemerintahan nasional. Namun kondisi hari ini menunjukkan perubahan struktur sosial dan pemerintahan yang jauh lebih kompleks. Karena itu, fokus gerakan tidak boleh hanya berhenti pada gejala permukaan.
Dalam pandangan Cak Nun, mahasiswa berada pada posisi kekuatan kelima dalam sistem bernegara. Tiga kekuatan utama adalah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kekuatan keempat adalah pers sebagai pengawas informasi publik. Mahasiswa kemudian berperan sebagai penjaga moral dan korektor arah bangsa. Namun peran tersebut tidak selalu berjalan optimal dalam konteks sosial modern.
Sejarah Gerakan dan Konsolidasi Nasional
Gerakan mahasiswa 1998 menjadi contoh kekuatan konsolidasi nasional yang solid. Saat itu terdapat kesadaran kolektif yang menyatukan berbagai kampus. Narasi besar tentang perubahan pemerintahan menjadi pengikat utama gerakan. Kohesi tersebut menghasilkan tekanan besar terhadap struktur kekuasaan. Namun kondisi sosial hari ini menunjukkan situasi yang berbeda secara signifikan.
Mahasiswa saat ini hidup dalam realitas yang terfragmentasi secara sosial dan digital. Teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi juga menciptakan ruang terpisah. Setiap kampus dan organisasi memiliki agenda masing-masing. Tidak ada lagi kesatuan narasi nasional yang kuat seperti masa lalu. Akibatnya, energi gerakan sering tersebar tanpa arah yang konsisten.
Persoalan bangsa saat ini tidak lagi bersifat sederhana atau personal. Masalah telah berkembang menjadi struktur yang kompleks dan sistemik. Termasuk desain pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan relasi kelembagaan negara. Perubahan satu figur tidak cukup menyelesaikan akar persoalan. Karena itu, pendekatan lama berbasis pergantian tokoh menjadi kurang relevan.
Kritik terhadap Fokus Pergantian Kekuasaan
Cak Nun menegaskan bahwa perjuangan tidak boleh berorientasi pada menjatuhkan presiden. Ia juga menolak konsep kudeta atau perubahan kekuasaan yang tidak konstitusional. Menurutnya, tujuan utama adalah memperbaiki kondisi bangsa secara menyeluruh. Pergantian pemimpin hanya menjadi konsekuensi, bukan tujuan utama perjuangan.
Cak Nun menambahkan bahwa perubahan besar bisa berdampak pada pergantian kekuasaan. Namun hal itu bukan tujuan utama yang dikejar. Tujuan sejati adalah perbaikan sistem dan kondisi bangsa. Perbedaan antara tujuan dan jalan sering kali tidak dipahami dengan baik. Akibatnya, banyak gerakan kehilangan arah strategisnya.
Kondisi bangsa dapat dianalogikan seperti rumah yang terus bocor. Penghuninya diganti berkali-kali tanpa memperbaiki struktur bangunan. Namun kebocoran tetap terjadi meskipun penghuni baru datang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tidak terletak pada individu. Masalah utama berada pada desain bangunan yang tidak diperbaiki secara mendasar.
Kesalahan Fokus Gerakan Sosial
Banyak gerakan sosial terjebak pada perubahan figur semata. Setelah satu tokoh diganti, masalah lama kembali muncul dalam bentuk berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa akar persoalan tidak tersentuh. Gerakan yang hanya menargetkan individu akan kehilangan keberlanjutan. Sebaliknya, perubahan sistemik membutuhkan pemahaman yang lebih dalam.
Anggota Majelis Tinggi Partai X Rinto Setiyawan menegaskan tiga tugas utama negara. Negara harus melindungi rakyat dari berbagai ancaman sosial dan ekonomi. Negara juga harus melayani rakyat dengan adil dan merata. Selain itu, negara wajib mengatur kehidupan masyarakat secara tertib dan berkeadilan. Ketiga fungsi ini membutuhkan sistem yang kuat dan desain yang tepat.
Mahasiswa dan Tantangan Pemahaman Struktural
Tantangan terbesar mahasiswa saat ini adalah memahami struktur negara secara utuh. Fokus tidak cukup pada isu pemerintahan jangka pendek. Mahasiswa perlu memahami relasi kekuasaan dan sistem konstitusi. Pemahaman ini penting untuk membangun gerakan yang lebih strategis. Tanpa itu, kritik hanya akan berhenti pada permukaan masalah.
Mahasiswa sering terjebak pada gejala yang tampak di permukaan. Gejala tersebut berupa kebijakan atau figur tertentu. Namun akar masalah sering berada jauh lebih dalam. Termasuk dalam desain sistem pemerintahan dan ekonomi negara. Karena itu, pendekatan analitis menjadi kebutuhan utama gerakan mahasiswa saat ini.
Mahasiswa membutuhkan konsolidasi intelektual yang lebih kuat dan terarah. Konsolidasi ini tidak hanya berbasis emosi atau momentum pemerintahan. Tetapi harus berbasis pemahaman struktural tentang negara. Diskusi lintas kampus perlu diperkuat secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk membangun kesadaran nasional yang lebih solid.
Reorientasi Ukuran Keberhasilan Gerakan
Keberhasilan gerakan mahasiswa tidak hanya diukur dari jatuhnya pemimpin. Tidak juga diukur dari besarnya massa aksi di jalanan. Keberhasilan harus diukur dari kesadaran kolektif yang terbentuk. Kesadaran tentang bagaimana negara bekerja menjadi indikator utama. Kesadaran ini menentukan arah perubahan jangka panjang bangsa. Gerakan yang hanya bersifat reaktif akan mudah kehilangan arah. Energi besar akan habis pada isu jangka pendek. Sementara akar masalah tetap tidak tersentuh. Hal ini menyebabkan siklus ketidakpuasan terus berulang. Tanpa perubahan sistemik, kondisi serupa akan terus terjadi di masa depan.
Mahasiswa harus kembali pada peran strategis sebagai kekuatan moral bangsa. Namun peran itu harus diperkuat dengan pemahaman sistem negara. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penggerak massa. Mereka harus menjadi pengarah gagasan perubahan. Dengan demikian, peran historis mahasiswa dapat diperbarui sesuai zaman.
Negara perlu redesain menegaskan bahwa perubahan bangsa membutuhkan pemahaman sistem, bukan sekadar pergantian figur. Mahasiswa harus keluar dari jebakan gejala dan masuk pada analisis akar masalah. Dengan pemahaman struktural yang kuat, gerakan akan lebih berkelanjutan. Bukan hanya menjatuhkan, tetapi mampu menunjukkan arah perubahan bangsa secara utuh.



