beritax.id – Ketika mendengar kata “kehancuran negara”, banyak orang membayangkan perang, kudeta, atau negara yang runtuh secara fisik. Padahal dalam realitas modern, kehancuran sering hadir secara perlahan, sunyi, dan terasa biasa. Gedung tetap berdiri. Jalan tetap ramai. Mall tetap penuh. Media sosial tetap dipenuhi hiburan. Tetapi di balik semua itu, kita sebagai masyarakat mulai kehilangan kualitas hidupnya sedikit demi sedikit.
Kehancuran yang dimaksud di sini adalah fase ketika kita bekerja semakin keras tetapi kehidupan tidak semakin layak. Gaji terasa selalu kurang. Harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada penghasilan. Pendidikan menjadi mahal. Rumah terasa mustahil dimiliki. Kesehatan menjadi kemewahan. Orang hidup dalam kondisi “bertahan”, bukan “menjalani hidup”.
Salah satu tanda paling nyata menuju kondisi itu adalah anjloknya nilai rupiah.
Apa Itu Nilai Rupiah dan Mengapa Sangat Penting?
Nilai rupiah adalah cerminan kekuatan ekonomi sebuah negara, kemampuan produksi masyarakatnya, tingkat kepercayaan dunia internasional, dan daya beli rakyatnya sendiri. Ketika rupiah melemah terus-menerus, dampaknya bukan hanya pada impor atau ekspor, tetapi langsung menghantam kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Nilai rupiah menentukan kemampuan rakyat membeli kebutuhan hidup.
Data menunjukkan:
- Tahun 1990: 1 dolar AS = Rp1.843
- Tahun 1998 saat krisis: 1 dolar AS = Rp10.014
- Tahun 2015: Rp13.389
- Tahun 2024: rata-rata Rp15.400
- Juni 2024 bahkan sempat menyentuh Rp16.400 per dolar AS
Artinya dalam 34 tahun, nilai rupiah melemah lebih dari 8 kali lipat terhadap dolar.
Masalahnya, Indonesia masih bergantung pada impor:
- BBM,
- gandum,
- kedelai,
- obat,
- alat kesehatan,
- mesin industri,
- komponen elektronik.
Saat rupiah melemah, biaya impor naik. Akhirnya harga barang di dalam negeri ikut naik.
Yang paling terkena dampak adalah masyarakat bergaji pas-pasan.
Harga Naik Lebih Cepat dari Gaji
Kenaikan harga sebenarnya bukan hal baru, tetapi yang membuat kita semakin tertekan adalah karena kenaikan gaji tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup. Inflasi Indonesia pernah mencapai 58,4% saat krisis 1998.
Bahkan dalam kondisi ekonomi yang dianggap stabil sekalipun, harga kebutuhan pokok tetap terus naik setiap tahun. Sementara itu, kenaikan gaji pekerja rata-rata sering kali hanya berkisar 3% sampai 5%, bahkan banyak yang tidak naik sama sekali.
Akibatnya daya beli masyarakat perlahan menurun. Orang mulai mengurangi pengeluaran penting demi bisa bertahan hidup. Ada yang mengurangi makan bergizi, menunda berobat, menunda menikah, bahkan hidup tanpa tabungan sama sekali. Banyak masyarakat akhirnya hidup dari gaji ke gaji tanpa memiliki cadangan uang untuk masa depan.
Munculnya Generasi “Kerja Bagai Kuda Tapi Tidak Dapat Apa-Apa”
Dari kondisi inilah muncul generasi yang bekerja terus-menerus tetapi tetap tidak memiliki apa-apa. Mereka bangun pagi, bekerja sampai malam, lembur setiap hari, tetapi tetap kesulitan membeli rumah atau membangun kehidupan yang stabil. Harga properti naik jauh lebih cepat dibanding kenaikan penghasilan.
Akibatnya banyak orang usia 30 hingga 40 tahun masih hidup mengontrak, memiliki cicilan di mana-mana, dan takut kehilangan pekerjaan karena tidak punya simpanan cukup. Kerja keras yang dulu dipercaya bisa mengubah hidup perlahan kehilangan makna. Orang bekerja bukan lagi untuk berkembang, tetapi hanya agar tidak jatuh miskin.
Kelas Menengah Mulai Turun Kelas
Kondisi ini paling terasa bagi kelas menengah. Kelompok ini sering terlihat baik-baik saja dari luar karena masih memiliki motor, ponsel, atau pekerjaan tetap. Namun kenyataannya, kondisi finansial mereka sangat rapuh.
Banyak keluarga yang sebenarnya hanya berjarak satu musibah dari kehancuran ekonomi. Ketika ada anggota keluarga sakit, terkena PHK, atau usaha mulai sepi, tabungan langsung habis dan utang mulai menumpuk. Rasa cemas akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Orang takut sakit karena biaya kesehatan mahal. Orang takut kehilangan pekerjaan karena mencari kerja semakin sulit. Bahkan banyak anak muda mulai merasa masa depan mereka tidak jelas meskipun sudah bekerja keras.
Menurunnya Kualitas Hidup Manusia
Dampak paling berbahaya dari melemahnya ekonomi sebenarnya bukan hanya soal uang, tetapi soal kualitas hidup manusia. Ketika harga makanan terus naik, masyarakat mulai membeli makanan yang lebih murah tetapi kurang bergizi. Konsumsi protein menurun karena daging, susu, dan telur menjadi semakin mahal.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan meningkatnya stunting dan menurunnya kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga semakin sulit dijangkau. Sekolah yang bagus membutuhkan biaya besar, sementara keluarga dengan ekonomi pas-pasan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Akibatnya kesenjangan sosial semakin melebar. Anak dari keluarga kaya memiliki akses pendidikan dan peluang lebih besar, sementara anak dari keluarga miskin semakin sulit keluar dari lingkaran kesulitan ekonomi.
Solusi
Solusi dari kondisi ini bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi perbaikan sistem negara. Pemerintah dan negara harus dipisahkan, karena pemerintah hanya bersifat sementara, sedangkan negara harus tetap melindungi rakyat dalam jangka panjang. Karena itu, amandemen kelima UUD 1945 harus dilakukan untuk memperbaiki arah ketatanegaraan dan kesejahteraan rakyat. Untuk memahami lebih dalam tentang hal ini, kalian bisa membacanya di ebook.sekolahnegarawan.id



