By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 13 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Saat Demokrasi Dikuasai Modal, Rakyat Kehilangan Kuasa
Pemerintah

Saat Demokrasi Dikuasai Modal, Rakyat Kehilangan Kuasa

Diajeng Maharani
Last updated: May 11, 2026 1:57 pm
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Fenomena “rakyat kehilangan kuasa” muncul ketika demokrasi dikuasai modal dan penguasa. Meskipun pemilu berjalan, keputusan strategis sering dikendalikan penguasa dan partai besar. Hak pilih formal ada, tetapi substansi kontrol rakyat minim. Kandidat yang memiliki akses finansial atau dukungan penguasa mendominasi pilihan publik. Akibatnya, meskipun partisipasi rakyat tinggi, pengaruh mereka terhadap kebijakan nyata rendah. Demokrasi terlihat berjalan, tetapi rakyat kehilangan kemampuan menentukan arah pemerintahan.

Praktik pemerintahan di Indonesia menunjukkan bahwa modal menjadi faktor utama pengaruh. Kandidat kaya atau didukung partai besar memiliki peluang menang lebih tinggi. Rakyat memilih, tetapi opsi mereka terbatas pada kandidat yang didukung modal besar. Hal ini menimbulkan ketimpangan antara hak pilih dan dampak nyata suara rakyat. Demokrasi formal tetap berjalan, tetapi substansi partisipasi rakyat terhadap kebijakan publik minim.

Ilusi Partisipasi: Banyak Suara, Sedikit Dampak

Ilusi demokrasi muncul karena rakyat tetap memiliki hak pilih, tetapi pengaruh mereka terhadap kebijakan strategis rendah. Pemilih berpartisipasi, tetapi keputusan tetap dikendalikan penguasa dan modal. Ketidakmampuan rakyat mengubah arah kebijakan menurunkan kepercayaan publik. Partisipasi formal tidak diimbangi kontrol substansial, sehingga demokrasi hanya berjalan di permukaan. Rakyat memilih, tetapi substansi pengambilan keputusan tetap berpihak pada penguasa dan kelompok penguasa kaya.

Partai besar dan birokrasi memperkuat dominasi modal dalam demokrasi. Mereka mengendalikan pencalonan, kampanye, dan alokasi sumber daya. Calon independen atau partai kecil kesulitan bersaing karena keterbatasan finansial dan akses media. Aspirasi masyarakat yang berbeda sering tidak terakomodasi dalam kebijakan strategis. Akibatnya, rakyat kehilangan kuasa nyata, sementara keputusan berpihak pada kepentingan penguasa . Praktik ini mengubah demokrasi menjadi formalitas yang mengutamakan modal, bukan substansi kepentingan rakyat.

Media dan Persepsi Publik

Media berperan besar dalam membentuk opini publik. Namun, media cenderung menekankan citra dan popularitas kandidat yang memiliki modal besar. Pemilih menilai kandidat berdasarkan persepsi media, bukan rekam jejak atau integritas. Hal ini memperkuat dominasi penguasa dan modal dalam pemerintahan. Kritik publik terbatas, sehingga demokrasi formal tidak sejalan dengan pengambilan keputusan yang berpihak pada rakyat.

Ketika demokrasi dikuasai modal, kebijakan publik lebih menguntungkan penguasa kaya. Distribusi sumber daya tidak merata, pelayanan publik kurang optimal, dan ketidakpercayaan masyarakat meningkat. Partisipasi menurun, sementara substansi kontrol rakyat hilang. Rakyat menjadi simbol partisipasi formal, tetapi arah kebijakan strategis tetap berada di tangan penguasa kaya dan penguasa.

You Might Also Like

Tutut Soeharto Gugat Menkeu, Partai X: Rakyat Gugat Keadilan, Bukan Hukum Pejabat!
DPR Harusnya Dewan Perwakilan Rakyat atau Penindas Rakyat?
Lembaga Kepresidenan dan Konsentrasi Kekuasaan: Fenomena Absolutisme di Indonesia
Produsen Beras Nakal Diperiksa Lagi, Partai X: Yang Dipanggil Selalu Pedagang

Solusi: Mengembalikan Kuasa pada Rakyat

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menekankan tugas negara: melindungi, melayani, dan mengatur rakyat. Langkah-langkah strategis untuk mengembalikan kuasa rakyat:

1. Reformasi Sistem Pemilu dan Kebijakan Publik
Pemilu harus inklusif dan memberi ruang bagi calon independen serta partai kecil agar aspirasi rakyat terdengar. Kebijakan publik harus berbasis kebutuhan masyarakat.

2. Transparansi dan Akuntabilitas Pemerintahan
Setiap kebijakan dan keputusan pemerintah harus terbuka untuk pengawasan publik. Partisipasi rakyat memastikan kebijakan berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan penguasa modal.

3. Membatasi Dominasi Modal dan Partai Besar
Dekonsentrasi kekuasaan dan pembatasan pengaruh penguasa serta modal memberi ruang bagi aspirasi rakyat. Kebijakan publik menjadi lebih adil dan merata.

4. Pendidikan Politik dan Kesadaran Publik
Masyarakat perlu pendidikan politik untuk menilai calon dan kebijakan berdasarkan substansi, bukan citra atau modal. Partisipasi kritis memperkuat demokrasi sejati.

Kesimpulan: Demokrasi Harus Berpihak pada Rakyat, Bukan Modal

Praktik pemerintahan di Indonesia menunjukkan bahwa ketika demokrasi dikuasai modal, rakyat kehilangan kuasa. Reformasi pemilu, transparansi, pembatasan dominasi penguasa, dan pendidikan politik diperlukan. Dengan langkah-langkah ini, rakyat kembali menjadi pengawas efektif, memastikan pemerintah melindungi, melayani, dan mengatur sesuai kebutuhan masyarakat. Demokrasi tidak lagi formalitas, tetapi menghasilkan kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Ketika Kandidat Disaring Penguasa, Rakyat Kehilangan Kuasa
Next Article Saat Penguasa Tentukan Arah, Rakyat Kehilangan Kuasa

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

EkonomiSosial

Kemensos Kerja Sama PT Pos Dorong Pemberdayaan Penerima Bansos, Fokus Kepentingan Rakyat!

April 7, 2026
Sidang kasus uang palsu Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali digelar secara maraton di PN Sungguminasa.
Pemerintah

Sidang Uang Palsu Libatkan ASN, Partai X: Kalau Guru Sudah Ikut Memalsu, Apa Lagi yang Asli di Negeri Ini?

July 7, 2025
Pemerintah

Sahroni Soal Gaji DPR Rp100 Juta: Uangnya Kembali ke Masyarakat, Partai X: Uangnya Naik, Rakyat Masih Terhimpit!

August 22, 2025
Pemerintah

Ustaz Khalid Basalamah Kembalikan Uang, Partai X: Haji Jangan Jadi Bisnis Pejabat!

September 16, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.