beritax.id — Demokrasi prosedural yang mengedepankan prinsip “one-man-one-vote” telah banyak dipraktikkan di Indonesia. Namun, meskipun prinsip ini menekankan kesetaraan dalam hak pilih, banyak yang mengkritik bahwa sistem ini tidak dapat menjamin kualitas kepemimpinan yang baik. Model demokrasi Pancasila berjenjang dianggap sebagai solusi untuk mengatasi ketimpangan yang ditimbulkan oleh demokrasi prosedural. Pendekatan ini lebih menekankan pada kualitas kepemimpinan dan pemilihan yang lebih selektif.
Model Demokrasi Pancasila Berjenjang: Menyeimbangkan Partisipasi dan Kualitas
Model demokrasi Pancasila berjenjang mengusulkan bahwa proses seleksi calon pemimpin tidak hanya berdasarkan popularitas semata. Melalui sistem berjenjang ini, seleksi awal calon pemimpin dilakukan oleh lembaga negara yang memiliki legitimasi konstitusional, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Setelah seleksi tersebut, calon yang lolos akan diserahkan kepada rakyat untuk memilih. Dengan sistem ini, demokrasi tidak hanya bersifat prosedural, tetapi lebih mengutamakan kualitas calon pemimpin yang dapat membawa kemajuan bagi negara.
Kelemahan Demokrasi Prosedural: Fokus pada Popularitas dan Kekuasaan Ekonomi
Salah satu kritik utama terhadap demokrasi prosedural adalah bahwa sistem ini sering kali menghasilkan pemimpin yang didasarkan pada popularitas dan kekuatan finansial, bukan pada kualitas atau integritas mereka. Seiring berkembangnya sistem ini, kekuasaan ekonomi dan pengaruh media sering kali lebih menentukan hasil pemilu daripada kemampuan atau kapasitas calon pemimpin. Model demokrasi Pancasila berjenjang mencoba untuk mengatasi hal ini dengan memastikan bahwa seleksi calon pemimpin tidak hanya didasarkan pada suara terbanyak, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan yang mereka tawarkan.
Mengapa Model Pancasila Berjenjang? Keadilan Substantif dalam Demokrasi
Model demokrasi Pancasila berjenjang memperkenalkan konsep bahwa kedaulatan rakyat tidak hanya berarti hak untuk memilih. Tetapi juga hak untuk memilih pemimpin yang berkualitas. Sistem ini bertujuan untuk memastikan bahwa calon yang diajukan dalam pemilu telah teruji melalui proses seleksi yang menilai kapasitas, integritas, dan kebijakan mereka. Proses seleksi ini dilakukan oleh lembaga negara yang independen. Hal ini yang bertugas menyaring calon pemimpin berdasarkan kriteria yang objektif, bukan berdasarkan kekuatan finansial.
Mengurangi Pengaruh Pejabat dan Oligarki dalam Proses Pemilihan
Salah satu keuntungan dari model demokrasi Pancasila berjenjang adalah kemampuannya untuk mengurangi pengaruh partai besar dan oligarki dalam proses pemilihan. Dalam demokrasi prosedural, dominasi partai seringkali membatasi akses rakyat terhadap calon pemimpin yang berkualitas. Dengan sistem berjenjang, calon pemimpin akan disaring oleh lembaga negara yang independen sebelum diserahkan kepada rakyat untuk memilih. Hal ini mengurangi ketergantungan pada mesin partai besar dan memungkinkan rakyat memilih pemimpin berdasarkan kualitas mereka, bukan hanya berdasarkan dukungan partai.
Solusi untuk Demokrasi yang Lebih Berkeadilan
Untuk memastikan bahwa model demokrasi Pancasila berjenjang dapat diterapkan secara efektif, beberapa langkah reformasi diperlukan. Pertama, sistem partai perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa mereka berfungsi sebagai perantara aspirasi rakyat. Adapun bukan sebagai entitas kekuasaan tertutup yang mengendalikan proses pemerintahan. Kedua, pendidikan politik berbasis etika dan rasionalitas perlu ditingkatkan untuk mendorong partisipasi rakyat yang lebih berkualitas. Ketiga, perlu ada peraturan yang lebih ketat mengenai proses seleksi calon pemimpin untuk memastikan bahwa hanya mereka yang benar-benar kompeten yang dapat maju ke pemilu.
Memperkuat Kedaulatan Rakyat dengan Mekanisme Seleksi yang Tepat
Dengan penerapan model demokrasi Pancasila berjenjang, rakyat tidak hanya berperan sebagai pemilih yang memilih di antara calon yang sudah disaring oleh partai atau pejabat. Sebaliknya, mereka akan memilih pemimpin yang telah teruji kualitasnya melalui proses seleksi yang dilakukan oleh lembaga negara. Sistem ini tidak hanya memperkuat kedaulatan rakyat, tetapi juga memastikan bahwa pemimpin yang terpilih memiliki kapasitas untuk memimpin negara dengan baik.
Penutupan
Demokrasi prosedural yang cenderung mengutamakan popularitas dan kekuasaan perlu direformasi agar lebih sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Model demokrasi Pancasila berjenjang menawarkan solusi untuk memastikan bahwa pemilu tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar partai. Tetapi juga menjadi sarana untuk memilih pemimpin yang berkualitas dan dapat membawa perubahan positif bagi negara. Dengan sistem ini, rakyat akan memiliki kontrol lebih besar dalam menentukan pemimpin mereka, dan demokrasi akan menjadi lebih substantif.



