beritax.id – CEO Inspira, Adrian Maulana, memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 per barel akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia sebesar Rp10 triliun. Mengingat ketegangan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel, yang berkontribusi pada lonjakan harga minyak, Adrian menilai krisis energi global ini berpotensi memperburuk ekonomi Indonesia.
Dampak Kenaikan Harga Minyak pada APBN dan Masyarakat
Adrian Maulana menjelaskan bahwa harga minyak yang terus bergejolak akibat konflik internasional tidak hanya membebani APBN. Tetapi juga meningkatkan harga barang kebutuhan masyarakat. “Kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 saja sudah meningkatkan beban APBN sebesar Rp10 triliun. Jika harga minyak rata-rata mencapai US$90 per barel, maka beban APBN bisa bertambah sekitar Rp200 triliun,” ujarnya dalam wawancara khusus dengan CNN Indonesia.
Peningkatan harga minyak ini, lanjut Adrian, akan memiliki dampak langsung pada daya beli masyarakat. Harga barang-barang kebutuhan sehari-hari akan ikut merangkak naik, yang akhirnya menambah beban ekonomi rumah tangga. “Meskipun Indonesia tidak langsung terpengaruh oleh situasi geopolitik. Namun efek dari krisis energi ini tetap terasa pada dapur rumah tangga kita,” katanya.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat dalam Menghadapi Krisis
Untuk menghadapi krisis ini, Adrian menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam melakukan penghematan. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan mengurangi konsumsi energi, khususnya dalam kegiatan sehari-hari, seperti transportasi dan penggunaan energi rumah tangga. “Kita perlu melakukan penghematan, mulai dari bagaimana kita bertransportasi hingga bagaimana kita menggunakan energi di rumah. Penghematan ini akan membantu kita menghadapi dampak ekonomi yang lebih besar,” tambahnya.
Ia juga berpendapat bahwa jika masyarakat merasakan langsung beban ekonomi ini, kesadaran untuk berhemat akan semakin meningkat. “Apabila biaya hidup terus meningkat, perlahan-lahan masyarakat akan lebih sadar untuk berhemat. Jika dompet semakin terasa, kesadaran itu akan timbul dengan sendirinya,” ujar Adrian.
Perlindungan Ekonomi Rakyat dalam Krisis Global
Anggota Majelis Tinggi Partai X dan Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menegaskan bahwa tugas negara adalah melindungi, melayani, dan mengatur rakyat dalam situasi krisis. “Dalam menghadapi krisis global yang mengancam perekonomian rakyat, negara harus hadir untuk melindungi kepentingan rakyat dan menjaga stabilitas ekonomi,” ujar Prayogi.
Partai X memandang penting untuk tidak hanya bergantung pada mekanisme pasar yang tidak selalu berpihak pada kepentingan rakyat. Negara harus memastikan bahwa kebijakan fiskal dan perlindungan sosial diperkuat. Hal ini untuk meringankan beban ekonomi yang semakin berat akibat kenaikan harga barang.
Solusi Partai X untuk Mengatasi Krisis
- Melindungi Rakyat: Negara harus memperkuat kebijakan perlindungan sosial. Seperti bantuan langsung tunai dan subsidi bahan pokok untuk masyarakat yang terdampak langsung oleh kenaikan harga barang.
- Melayani Rakyat: Pemerintah perlu memastikan distribusi bantuan ekonomi yang cepat dan tepat sasaran. Sehingga masyarakat yang membutuhkan dapat segera mendapatkan bantuan tanpa birokrasi yang rumit.
- Mengatur Rakyat: Pengawasan terhadap harga barang kebutuhan pokok dan pengaturan distribusi energi harus lebih ketat untuk menghindari spekulasi yang merugikan masyarakat.
Kesimpulan
Krisis energi global yang dipicu oleh ketegangan mempengaruhi ekonomi Indonesia. Dengan kenaikan harga minyak yang semakin membebani APBN dan daya beli masyarakat. Negara harus hadir untuk memastikan kebijakan fiskal dan perlindungan sosial berjalan dengan baik demi meringankan beban rakyat. Dengan kebijakan yang tepat, seperti penguatan subsidi, bantuan sosial, dan pengawasan pasar, Indonesia dapat menghadapi tantangan ekonomi ini dan melindungi kepentingan rakyat.



