By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 11 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > MBG, Utang Negara, dan Harga Masa Depan Bangsa
Pemerintah

MBG, Utang Negara, dan Harga Masa Depan Bangsa

Diajeng Maharani
Last updated: February 10, 2026 3:34 pm
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Sandang, pangan, dan papan kerap dipahami sebagai tiga kebutuhan pokok manusia. Namun, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengingatkan bahwa ketiganya bukan sekadar urusan biologis. Dalam berbagai forum Sinau Bareng, Cak Nun menegaskan bahwa sandang bukan hanya pakaian, melainkan martabat dan eksistensi hidup manusia. Karena itulah dalam filsafat Jawa, sandang disebut lebih dulu daripada pangan. Bukan karena makan tidak penting, melainkan karena manusia yang kenyang tetapi kehilangan martabat hidupnya bukanlah manusia yang utuh.

Contents
Makan Bergizi Gratis (MBG): Niat Mulia atau Solusi Sementara?Konsekuensi Fiskal dan Beban Utang untuk Generasi Mendatang

Pangan pun, menurut Cak Nun, tidak boleh direduksi menjadi sekadar urusan perut. Yang perlu diberi makan bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran, jiwa, rasa seni, dan kesadaran. Sementara papan berarti ketepatan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Setiap kebijakan harus berada di konteks yang benar agar tidak merusak tatanan kehidupan.

Makan Bergizi Gratis (MBG): Niat Mulia atau Solusi Sementara?

Dalam kerangka inilah program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dibaca lebih dalam. Memberi makan anak adalah niat mulia. Namun kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niat, melainkan dari cara, sumber pembiayaan, dan dampak jangka panjangnya. Masalah muncul ketika MBG justru dibiayai dengan memangkas hampir sepertiga alokasi anggaran pendidikan, padahal konstitusi secara tegas mewajibkan minimal 20 persen APBN untuk pendidikan.

Pendidikan adalah sandang bangsa. Ia membentuk martabat kolektif, kemampuan berpikir, dan daya tahan peradaban. Ketika anggaran pendidikan dijadikan sumber pembiayaan program lain, negara sedang menggeser prioritas dari pembangunan martabat jangka panjang ke pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Tidak mengherankan jika mahasiswa, guru honorer, dan yayasan sekolah menggugat UU APBN 2026 ke Mahkamah Konstitusi, menuntut agar anggaran pendidikan benar-benar “steril” untuk fungsi intinya.

Konsekuensi Fiskal dan Beban Utang untuk Generasi Mendatang

Persoalan ini semakin serius ketika dikaitkan dengan kondisi fiskal negara. Pemerintah berencana menarik utang baru sebesar Rp 781,86 triliun pada tahun 2026, sebagaimana tercantum dalam Nota Keuangan RAPBN. Artinya, generasi yang hari ini anggaran pendidikannya dipangkas justru akan dibebani utang untuk membiayai program yang bersifat konsumtif. Ini bukan sekadar persoalan teknis anggaran, melainkan persoalan keadilan antargenerasi.

Negara seolah memilih jalan mudah: memberi makan sekarang, dan membiarkan anak cucu membayar harganya nanti. Padahal, bangsa yang besar bukan bangsa yang sekadar kenyang, tetapi bangsa yang cerdas, bermartabat, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa pendidikan yang kuat, MBG berisiko hanya melahirkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi rapuh secara nalar dan mudah dikendalikan.

You Might Also Like

Wamen BUMN Bicara AI, Partai X: Teknologi Canggih, Rakyat Tetap Susah!
Direktur Kemenag Diperiksa, Partai X: Rakyat Tunggu Keadilan, Bukan Klarifikasi!
Dewan Pertahanan Nasional atau Dewan Keamanan Negara?
Draf Sulit Diakses, Partai X: Apa Gunanya DPR Digital kalau Transparansi Masih Eror?

Di sinilah makna papan kembali relevan. Memberi makan adalah kewajiban negara, tetapi tempatnya bukan dengan mengorbankan pendidikan dan menumpuk utang. Negara memiliki banyak instrumen kebijakan sosial dan kesehatan yang bisa digunakan tanpa merusak fondasi konstitusional pendidikan. Ketika semuanya dicampur tanpa kejelasan, kebijakan kehilangan arah dan bangsa kehilangan kompas.

MBG seharusnya menjadi pelengkap kebijakan pembangunan manusia, bukan pengganti peran pendidikan. Jika sandang, dalam arti martabat dan pendidikan, dikalahkan oleh pangan yang dikelola secara tergesa dan dibiayai utang, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar APBN, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

Bangsa ini tidak hanya butuh makan. Bangsa ini butuh arah, martabat, dan keberanian untuk tidak menukar masa depan dengan kebijakan populer hari ini.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Korupsi Pajak dan Bea Cukai, Ganti Pejabat yang Terlibat dalam “Clique”!
Next Article Demokrasi Tanpa Struktur: Pemerintah yang Terus Berputar Tanpa Kejelasan atau Arah

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Pejabat Bea Cukai Terima Rp7 Miliar, Korupsi Harus Dibersihkan Tuntas!

February 10, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Ketika Kekuasaan Lebih Penting dari Kepentingan Rakyat

November 28, 2025
Pemerintah

Wali Kota Prabumulih Minta Maaf, Partai X: Maaf Tak Hilangkan Derita Rakyat!

September 22, 2025
Seputar Pajak

PPh Final UMKM 0,5%, Partai X: UMKM Butuh Keuntungan Nyata, Bukan Angka!

November 3, 2025
Pemerintah

Pemakzulan Gibran Diusulkan, Partai X: Kalau Sah dan Elegan, Kenapa Pejabat Langsung Panik?

June 12, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.