beritax.id– Kedaulatan fiskal Indonesia semakin tergerus akibat tekanan global yang memaksa pemerintah Indonesia tunduk pada kebijakan internasional. Ketergantungan pada utang luar negeri dan aturan yang ditetapkan oleh lembaga internasional semakin memperburuk kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah Indonesia dipaksa untuk mengikuti standar global yang sering kali bertentangan dengan kebutuhan domestik. Akibatnya, kebijakan fiskal yang diambil lebih mengutamakan kepentingan negara maju dan perusahaan besar, sementara rakyat Indonesia justru menjadi korban. Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan bahwa tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Namun, saat kedaulatan fiskal tergerus, tugas negara semakin jauh dari realitas ini.
Tekanan Global yang Menggerus Kedaulatan Fiskal Indonesia
Kedaulatan fiskal Indonesia tergerus oleh berbagai tekanan yang datang dari lembaga internasional dan negara maju. Melalui utang luar negeri dan kerjasama dengan IMF, Bank Dunia, dan OECD, Indonesia semakin terikat untuk mengikuti kebijakan fiskal yang tidak selaras dengan kebutuhan domestik. Kebijakan seperti pengurangan pajak untuk perusahaan asing dan pengalihan anggaran untuk membayar utang semakin memperburuk kondisi ekonomi dalam negeri. Indonesia terpaksa memprioritaskan pembayaran utang dan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh kreditor internasional, sementara anggaran untuk rakyat semakin terbatas.
Dampak Negatif pada Rakyat
Rakyat Indonesia menjadi korban langsung dari kedaulatan fiskal yang semakin tergerus. Kenaikan pajak konsumsi, seperti PPN, semakin membebani rakyat, sementara perusahaan asing terus menikmati insentif pajak yang menguntungkan mereka. Selain itu, pemotongan anggaran untuk sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur semakin memperburuk kualitas hidup rakyat. Kebijakan fiskal yang lebih mengutamakan kepentingan global menyebabkan ketimpangan yang semakin besar, di mana keuntungan hanya mengalir ke luar negeri, sementara rakyat Indonesia semakin terpinggirkan.
Tanggapan Anggota Majelis Tinggi Partai X
Rinto Setiyawan menegaskan bahwa negara harus kembali pada tugas utamanya: melindungi, melayani, dan mengatur rakyat. Negara tidak boleh tunduk pada tekanan global yang merugikan rakyatnya. Pemerintah harus mampu mengambil kebijakan fiskal yang berpihak pada kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat. Indonesia harus mengevaluasi kebijakan utang luar negeri dan reformasi perpajakan yang lebih adil untuk mengurangi ketergantungan pada kebijakan internasional yang tidak menguntungkan rakyat.
Solusi untuk Mengembalikan Kedaulatan Fiskal
Pemerintah Indonesia harus melakukan reformasi fiskal yang mengutamakan kepentingan rakyat. Salah satu solusi adalah dengan mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dan mencari alternatif pembiayaan yang lebih berkelanjutan. Kebijakan perpajakan juga perlu diprioritaskan untuk rakyat dengan meningkatkan pajak progresif bagi individu dan korporasi besar, sementara memberikan insentif untuk UMKM dan sektor domestik. Selain itu, pengawasan yang ketat terhadap insentif pajak untuk perusahaan asing harus dilakukan untuk memastikan bahwa kebijakan pajak tidak merugikan rakyat.
Kedaulatan fiskal Indonesia semakin tergerus oleh tekanan global yang menyebabkan negara lebih mengutamakan kepentingan internasional daripada rakyatnya. Negara harus kembali pada tugas utamanya untuk melindungi, melayani, dan mengatur rakyat dengan kebijakan fiskal yang berpihak pada kepentingan nasional. Reformasi kebijakan fiskal yang lebih adil dan transparan akan memungkinkan Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan fiskalnya dan memastikan bahwa kebijakan pajak menguntungkan rakyat Indonesia.



