beritax.id — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan para kepala daerah di Sumatera yang terdampak bencana banjir agar tidak menyalahgunakan anggaran Transfer Keuangan Daerah (TKD). Hal ini sejalan dengan keputusan pemerintah pusat untuk tidak memotong TKD guna mempercepat pemulihan pascabencana. Tito menegaskan, “Anggaran bencana ini harus digunakan dengan bijak, jangan sampai diselewengkan. Jika terjadi penyelewengan, dampaknya akan jauh lebih besar dan berlipat ganda.”
Sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan bencana, Presiden Prabowo Subianto telah setuju untuk mengembalikan TKD Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh ke kondisi semula, tidak dipotong, dengan tujuan membantu memperbaiki infrastruktur yang rusak, seperti jembatan dan jalan. Tito juga mengingatkan bahwa jika anggaran ini disalahgunakan, selain melanggar hukum, secara moral, penyelewengan adalah bentuk pengkhianatan terhadap penderitaan rakyat yang sedang menghadapi bencana.
Pentingnya Akuntabilitas Anggaran Bencana
Partai X, melalui Anggota Majelis Tinggi dan Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran bencana. “Tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat,” ujar Prayogi R Saputra. Dalam situasi darurat seperti ini, pemerintah harus memanfaatkan setiap sumber daya yang ada untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan kesejahteraan rakyat harus menjadi pedoman dalam pengelolaan anggaran bencana.
Partai X juga mengingatkan bahwa pengelolaan anggaran yang baik adalah kunci dalam memastikan bahwa bantuan sampai ke masyarakat yang membutuhkan. Penyelewengan anggaran dapat menambah beban penderitaan rakyat, yang seharusnya mendapatkan bantuan untuk bangkit dari bencana.
Solusi Partai X
Dalam menghadapi masalah pengelolaan anggaran, Partai X menawarkan sejumlah solusi, antara lain:
- Memperkuat sistem akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah, terutama yang berkaitan dengan bencana.
- Menetapkan pengawasan yang ketat terhadap penggunaan anggaran untuk mencegah potensi penyelewengan.
- Melakukan pelatihan kepada kepala daerah dan aparat pemerintahan mengenai pentingnya prinsip pemerintahan yang efisien dan transparan.
- Menyusun kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat pascabencana dengan memperhatikan efektivitas dan kecepatan distribusi bantuan.
Penutup
Partai X mengingatkan bahwa negara hadir untuk melindungi, melayani, dan mengatur rakyat, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Setiap kebijakan, termasuk dalam penanganan bencana, harus diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Dengan pemahaman yang kuat tentang tugas negara, kita dapat memastikan bahwa anggaran yang ada digunakan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.



