beritax.id — Di tengah upaya negara mengejar pertumbuhan ekonomi, fenomena perusahaan zombie Indonesia justru menyerap biaya besar yang tersembunyi dalam sistem ekonomi nasional. Perusahaan zombie adalah entitas usaha yang secara fundamental tidak lagi produktif dan tidak mampu mencetak laba berkelanjutan, namun tetap bertahan hidup melalui restrukturisasi utang berulang, relaksasi kredit, atau perlindungan kebijakan. Akibatnya, pertumbuhan yang dikejar negara berisiko kehilangan kualitas dan keberlanjutan.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah terus menekankan pentingnya menjaga laju pertumbuhan dan stabilitas makro. Namun bersamaan dengan itu, data kehati-hatian perbankan, lambatnya ekspansi kredit produktif, serta minimnya penciptaan lapangan kerja berkualitas menunjukkan bahwa sebagian energi ekonomi justru tersedot untuk mempertahankan usaha yang tidak lagi efisien.
Biaya Tersembunyi di Balik Angka Pertumbuhan
Perusahaan zombie Indonesia masih tercatat aktif dan ikut menopang statistik ekonomi, tetapi menyerap sumber daya besar mulai dari kredit, insentif fiskal, hingga ruang kebijakan. Sumber daya ini seharusnya dialokasikan untuk usaha sehat dan sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah.
Pertumbuhan ekonomi pun tampak terjaga di angka, namun dibayar dengan biaya struktural yang tidak kecil.
Distorsi Kredit dan Beban Sistem Keuangan
Restrukturisasi kredit berkepanjangan membuat sistem perbankan menanggung risiko laten. Kredit yang tertahan di perusahaan zombie mengurangi ruang pembiayaan bagi UMKM sehat, industri bernilai tambah, dan usaha inovatif. Akibatnya, mesin ekonomi riil tidak bergerak optimal meski target pertumbuhan terus dikejar.
Stabilitas jangka pendek dijaga, tetapi daya dorong jangka panjang melemah.
Dampak Sosial dan Produktivitas Tenaga Kerja
Perusahaan zombie juga menahan tenaga kerja pada sektor berproduktivitas rendah. Upah stagnan, perlindungan kerja terbatas, dan minimnya peluang peningkatan keterampilan menjadi konsekuensi langsung. Risiko sosial meningkat, sementara kelas menengah menanggung tekanan biaya hidup tanpa dukungan peningkatan pendapatan.
Biaya mempertahankan perusahaan zombie pada akhirnya dibayar oleh masyarakat luas.
Pertumbuhan yang Kehilangan Arah
Ketika negara terlalu fokus mengejar pertumbuhan angka, pembenahan struktural kerap tertunda. Perusahaan zombie Indonesia menjadi simbol pertumbuhan yang kehilangan arah: terlihat bergerak, tetapi tidak membawa transformasi ekonomi yang nyata.
Jika dibiarkan, biaya koreksi di masa depan akan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan stabilitas jangka pendek yang dinikmati hari ini.
Solusi: Mengalihkan Fokus dari Angka ke Kualitas
Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terus diserap oleh perusahaan zombie, diperlukan langkah kebijakan yang tegas dan terukur, antara lain:
- Menetapkan kriteria tegas perusahaan zombie, agar restrukturisasi tidak menjadi mekanisme bertahan tanpa batas.
- Menghentikan insentif dan pembiayaan bagi usaha tidak produktif, serta mengalihkan sumber daya ke sektor bernilai tambah.
- Mendorong restrukturisasi nyata dan konsolidasi usaha, termasuk opsi exit yang adil dan terencana.
- Melindungi tenaga kerja melalui transisi berkeadilan, dengan pelatihan ulang dan jaring pengaman sosial.
- Mengukur keberhasilan ekonomi dari kualitas pertumbuhan, bukan semata dari angka PDB dan stabilitas makro.
Mengejar pertumbuhan tanpa membenahi struktur hanya memindahkan biaya ke masa depan. Selama perusahaan zombie Indonesia terus menyerap sumber daya, negara mungkin terlihat tumbuh namun sesungguhnya sedang membayar mahal untuk pertumbuhan yang kehilangan arah dan daya tahan.



