By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 12 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Penguasa yang Hidup dari Pajak Rakyat tapi Menjauh dari Rakyat
Pemerintah

Penguasa yang Hidup dari Pajak Rakyat tapi Menjauh dari Rakyat

Diajeng Maharani
Last updated: January 9, 2026 1:04 pm
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id — Kekuasaan bergaji pajak seharusnya menjadi simbol kedekatan antara negara dan rakyat. Penguasa hidup dari kontribusi publik, bekerja atas mandat rakyat, dan bertanggung jawab langsung kepada mereka yang membiayai negara. Namun realitas belakangan menunjukkan kecenderungan sebaliknya: penguasa tetap hidup dari pajak rakyat, tetapi kebijakan dan sikap kekuasaan justru semakin menjauh dari kebutuhan dan suara rakyat.

Dalam beberapa waktu terakhir, jarak itu terasa kian lebar. Di tengah tekanan ekonomi, melemahnya daya beli, meningkatnya pemutusan hubungan kerja, serta mahalnya kebutuhan dasar, rakyat justru menyaksikan kebijakan yang minim empati sosial. Aspirasi publik kerap direspons defensif, kritik dipersempit ruangnya, sementara keputusan strategis tetap berjalan tanpa dialog yang memadai. Negara dibiayai rakyat, tetapi rakyat tidak sepenuhnya didengar.

Pajak Mengalir, Perlindungan Menyusut

Rakyat terus memenuhi kewajiban pajaknya, namun imbal balik berupa perlindungan dan rasa aman ekonomi justru melemah. Harga kebutuhan pokok bergejolak, biaya pendidikan dan kesehatan meningkat, sementara kebijakan pengendalian berjalan lamban. Dalam situasi ini, penguasa terlihat hadir kuat dalam memungut dan mengatur, tetapi lemah dalam melindungi.

Paradoks ini memperlihatkan krisis relasi antara negara dan warga: kewajiban berjalan, hak tertinggal.

Kebijakan yang Jauh dari Kehidupan Nyata

Menjauhnya penguasa dari rakyat tercermin dari kebijakan yang lebih berorientasi pada stabilitas sistem dan kepentingan pejabat dibandingkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Fokus pada target fiskal, pertumbuhan angka, dan citra stabilitas sering kali mengabaikan kenyataan bahwa banyak rumah tangga hidup dalam tekanan berat.

Kelas pekerja dan kelas menengah dipaksa menyesuaikan diri, berhemat ekstrem, dan menanggung risiko sosial yang seharusnya dipikul bersama oleh negara.

You Might Also Like

Bos BGN Minta Uang, Partai X: Anggaran Harus Transparan, Bukan Main Sembunyi!
Gas Air Mata Warnai Demo Pati, Partai X: Di Negeri Ini, Rakyat Bersin Dulu Baru Didengar
Kerugian Rakyat Akibat Kerusuhan, Apakah Setara dengan Kerugian Saat Memilih DPR dan Pejabat Korup?
Regulasi Melampaui Batas: Badan Gizi dan Erosi Prinsip Konstitusi

Demokrasi Tanpa Kedekatan Sosial

Demokrasi tidak hanya soal pemilu dan prosedur formal, tetapi juga soal kedekatan kekuasaan dengan rakyat. Ketika penguasa bergaji pajak menjauh secara sosial dan emosional dari warga, demokrasi kehilangan substansinya. Rakyat tetap menjadi objek kebijakan, bukan subjek yang dilibatkan.

Jika kondisi ini dibiarkan, kepercayaan publik akan terus tergerus dan partisipasi demokratis melemah.

Risiko Negara yang Kehilangan Legitimasinya

Penguasa yang hidup dari pajak rakyat tetapi menjauh dari rakyat berisiko kehilangan legitimasi moral. Negara mungkin tetap berjalan secara administratif, namun kehilangan ikatan batin dengan warganya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu apatisme, ketegangan sosial, dan melemahnya fondasi kebangsaan.

Negara tidak runtuh karena kekurangan pajak, tetapi karena kehilangan kepercayaan rakyatnya.

Solusi: Mendekatkan Kembali Kekuasaan kepada Rakyat

Untuk mengembalikan makna penguasa bergaji pajak dalam demokrasi yang sehat, diperlukan langkah-langkah nyata, antara lain:

  1. Menegaskan kembali bahwa penguasa adalah pelayan rakyat, bukan pengelola kekuasaan yang berdiri di atas warga.
  2. Membuka ruang dialog dan kritik yang aman, sebagai mekanisme koreksi kebijakan.
  3. Memprioritaskan kebijakan perlindungan rakyat, terutama di tengah tekanan ekonomi dan sosial.
  4. Menyelaraskan kebijakan fiskal dengan keadilan sosial, agar pajak benar-benar kembali ke rakyat dalam bentuk layanan dan perlindungan.
  5. Memperkuat akuntabilitas dan transparansi kekuasaan, sehingga setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan kepada pembayar pajak.

Penguasa yang hidup dari pajak rakyat tidak boleh menjauh dari rakyat. Selama jarak itu dibiarkan melebar, kekuasaan akan kehilangan arah pengabdiannya—dan demokrasi hanya akan tersisa sebagai prosedur, bukan sebagai perwujudan kedaulatan rakyat yang sesungguhnya.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article OTT Kantor Pajak Jakarta Utara, IWPI: KPK Jangan Tebang Pilih
Next Article Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Rekam Jejak Harus Diperbaiki!

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Ketua DPR RI Puan Maharani mengimbau anggota dewan agar tidak menyisakan snack rapat supaya tidak mubazir. Kudapan yang biasa
Pemerintah

Snack Rapat DPR Berlimpah, Partai X: Air Putih Saja, Biar Rakyat Bisa Ikut Merasakan!

August 25, 2025
Pemerintah

Kemakmuran Tidak Akan Datang dari Trickle Down, tetapi dari Kebersamaan

October 31, 2025
Komite I DPD RI kembali berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) untuk menuntaskan berbagai persoalan ASN PPPK.
Pemerintah

ASN PPPK Masih Bermasalah, Partai X: Negara Tak Boleh Tutup Mata terhadap Nasib Pegawainya Sendiri!

July 21, 2025
Pemerintah

Kegerahan Publik Memuncak: Rakyat Menuntut Kembali Hak Mengoreksi Wakilnya

December 1, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.