By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 11 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Pemerintah Bayaran dalam Negara Rapuh Struktural
Pemerintah

Pemerintah Bayaran dalam Negara Rapuh Struktural

Diajeng Maharani
Last updated: January 9, 2026 8:31 am
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia,
Anggota Majelis Tinggi Partai X,
Wakil Direktur Sekolah Negarawan


beritax.id – Ada satu pemandangan yang selalu mengusik kalau kita berdiri di kawasan Benteng Vredeburg: bangunannya kokoh, rapi, seperti simbol ketertiban. Tapi Cak Nun pernah memaksa kita berpikir lebih dalam lewat satu pertanyaan yang menghantam logika paling dasar tentang negara:

Contents
Perangkat Kekuasaan Semakin TebalUkuran pemerintah yang Benar

“Benteng itu dulu membentengi siapa dari ancaman siapa?”

Pertanyaan itu tidak berhenti pada sejarah kolonial. Ia menampar masa kini. Sebab di zaman apa pun, benteng selalu mengandung pesan: siapa yang dilindungi, dan siapa yang dianggap berbahaya. Dan di sinilah kritik Cak Nun jadi relevan, bahkan terasa makin dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

“ Ada Negara dengan rakyat menggaji Pemerintah untuk membentengi keamanan hidup dan kerja mereka, tapi rakyat malah diancam,” kata Cak Nun. Lalu ia menambahkan kalimat yang lebih tajam: “Pemerintah bayaran itu fokus berpikirnya bukan ‘awas kalau ada yang mengancam rakyat’. Melainkan ‘rakyat adalah ancaman’. Maka rakyat dipelototi terus. Kalau macam-macam, digebuk pakai tongkat sakti Kiai Perppu.”

Di situ inti masalahnya. Negara dibentuk untuk melindungi rakyat, tetapi pola pikir penguasa sering terbalik: rakyat justru dicurigai. Padahal logikanya sederhana sekali. Pemerintah itu digaji dari pajak rakyat. Fasilitasnya, kendaraan dinasnya, perjalanan dinasnya, keamanan protokolnya—semua berasal dari uang yang dipungut dari rakyat. Pemerintah bukan “pemberi”, melainkan “penerima amanah”. Rakyat bukan “pihak yang harus tunduk”, melainkan “pemilik mandat”.

Perangkat Kekuasaan Semakin Tebal

Namun yang sering kita lihat: ketika rakyat mengeluh, dianggap mengganggu stabilitas. Ketika rakyat protes, dicap provokator. Ketika rakyat bertanya, dibilang menyebar kebencian. Ruang kritik dipersempit, ruang dialog dipendekkan, sementara perangkat kekuasaan semakin tebal. Seolah-olah negara ini punya musuh utama: warganya sendiri.

You Might Also Like

Krisis Keadilan: Kebijakan Terlihat Indah di Presentasi, Buruk di Kehidupan Nyata
Ombudsman: Pemeriksaan Pajak Lewat Waktu adalah Maladministrasi
DPR Terima Surpres BUMN, Partai X: Jangan Jadi Ladang Oligarki!
BNPT-Kemendes Ciptakan Desa Bebas Intoleransi, Partai X: Harmoni Butuh Tindakan Bukan Sekadar Wacana!

Kita jadi seperti menyaksikan benteng yang menghadap ke arah yang salah. Bukan membentengi rakyat dari ancaman, tetapi membentengi kekuasaan dari suara rakyat. Di sinilah istilah “pemerintah bayaran” bukan sekadar satire, tapi peringatan moral. Ada bahaya besar ketika pemerintah lupa bahwa ia hanya pekerja publik, lalu bertingkah seperti majikan.

Kalau sebuah perusahaan memperlakukan pelanggan sebagai ancaman, perusahaan itu akan bangkrut. Negara pun begitu. Negara yang memelototi rakyatnya sendiri, cepat atau lambat akan kehilangan legitimasi. Karena rakyat bukan objek yang harus diawasi, melainkan subjek yang harus dilayani.

Kita juga perlu jujur: persoalan ini bukan cuma soal individu pejabat yang kebablasan. Ini soal desain mental dan budaya kekuasaan yang masih feodal. Yang merasa lebih tinggi karena jabatan. Yang merasa harus “dihormati” bukan karena kerja, tapi karena posisi. Serta yang gampang tersinggung ketika dikritik, seolah kritik adalah penghinaan. Padahal dalam negara demokrasi, kritik adalah vitamin bukan racun.

Yang lebih berbahaya lagi: ketika hukum dipakai sebagai tongkat, bukan sebagai pagar keadilan. Ketika aturan dikeluarkan bukan untuk melindungi rakyat, tetapi untuk membungkam rakyat. Saat itulah “Kiai Perppu” versi Cak Nun terasa masuk akal: sebuah simbol bahwa regulasi bisa dipakai sebagai senjata, bukan sebagai pelayanan.

Ukuran pemerintah yang Benar

Padahal ukuran pemerintah yang benar itu sederhana: apakah rakyat merasa aman, merasa dilindungi, merasa dipermudah hidupnya? Bukan seberapa banyak aturan dibuat. Bukan seberapa keras suara aparat. Dan bukan seberapa tinggi tembok pengamanan. Negara yang kuat bukan yang menakutkan rakyat, tapi yang membuat rakyat tidak takut.

Maka pekerjaan rumah kita adalah membalik arah. Mengembalikan kesadaran dasar bahwa pemerintah itu bayaran rakyat—bukan penguasa rakyat. Jabatan itu kontrak pelayanan bukan mahkota kehormatan. Dan negara ini tidak boleh menjadi benteng yang menodong ke dalam.

Kalau kita sepakat bahwa republik ini milik rakyat, maka yang harus dijaga adalah kehidupan rakyat. Yang harus dibentengi adalah kerja rakyat. Yang harus dilindungi adalah martabat rakyat. Dan pemerintah sebagaimana kata Cak Nun harus sadar diri: fokusnya bukan “rakyat ancaman”, melainkan “siapa yang mengancam rakyat”.

Sebab ketika pemerintah mulai takut pada rakyat, yang sebenarnya terjadi adalah pemerintah takut kehilangan kuasa. Dan di titik itulah, kita tahu: benteng telah salah arah.


Catatan Penulis:
Tulisan ini merupakan refleksi atas kritik sosial dan spiritual Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) tentang relasi kuasa yang terbalik dalam praktik kenegaraan ketika negara lupa bahwa kekuasaan bukan hak, melainkan amanah rakyat.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Ekonomi Terlihat Sehat, Hidup Rakyat Diperas
Next Article Pemerintah Pamer Capaian, Rakyat Menanggung Beban

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menunjukkan komitmen memperkuat kapasitas pekerja migran demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045
Ekonomi

PNM dan Menko PM Perkuat Pekerja Migran, Partai X: Perlindungan Harus Utama!

August 12, 2025
Kepolisian Republik Indonesia kembali menegaskan komitmen terhadap pelayanan publik yang humanis dan profesional melalui penganugerahan Hoegeng Awards 2025.
Pemerintah

Hoegeng Awards Bagus, Tapi Partai X: Rakyat Butuh Polisi yang Hadir Tiap Hari, Bukan Hanya Saat Seremoni!

July 18, 2025
Pemerintah

Fakta Mengejutkan: Negara Bukan Pemerintah dan Akibatnya Sangat Besar

November 19, 2025
Sosial

Bantuan Erupsi Semeru Cair, Partai X Minta Penyaluran Tepat Sasaran

November 22, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.