By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 3 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Menkeu Purbaya Nyindir Media, Tapi Lupa Bedakan Bendahara dengan Kasir Negara
Pemerintah

Menkeu Purbaya Nyindir Media, Tapi Lupa Bedakan Bendahara dengan Kasir Negara

Diajeng Maharani
Last updated: November 18, 2025 8:07 am
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan, S.H (Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia)

beritax.id – Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyindir media dengan mengatakan bahwa “jurnalis sekarang mingkem, ekonomi malah tambah lemah”, publik tentu berhak bertanya apakah melemahnya ekonomi disebabkan oleh media… atau justru oleh ketidakmampuan pemerintah menjalankan fungsi fiskal dengan benar?

Contents
Menkeu Nyindir Media, Tapi Menolak Memperbaiki SistemMasalahnya Bukan Media — Masalahnya Sistem Fiskal yang Kacau

Pernyataan Purbaya itu muncul dalam sebuah kritik yang diarahkan ke dunia jurnalisme, seolah-olah melemahnya ekonomi adalah akibat dari kurangnya kontrol media. Padahal, dalam waktu yang hampir bersamaan, Purbaya juga menyatakan tidak akan membentuk Badan Penerimaan Negara (BPN) sebuah institusi yang justru sangat dibutuhkan untuk memperbaiki manajemen penerimaan negara dan menyelamatkan fiskal dari kebocoran struktural.

Di sinilah ironi itu muncul:
Purbaya sibuk mengkritik pihak luar, tetapi justru melupakan masalah dasar di dapurnya sendiri ketidakmampuan membedakan fungsi bendahara negara dan fungsi kasir negara, dua hal yang semestinya wajib dipisah dalam tata kelola keuangan publik modern.

Bendahara Bukan Kasir — dan Negara Bukan Minimarket

Dalam standar tata kelola global—COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), INTOSAI (International Organisation of Supreme Audit Institutions), OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) fungsi bendahara dan kasir harus terpisah:

  • Bendahara adalah perencana, pengendali, penjaga, dan pengawas aset negara.
  • Kasir adalah pencatat transaksi harian dan pelaksana operasional penerimaan dan pembayaran.

Purbaya menyatukan dua fungsi ini dalam satu kementerian, tanpa pemisahan lembaga penerimaan negara.
Akibatnya, pemerintah menjadi pelayan publik yang:

You Might Also Like

Prabowo di Sumpah Pemuda, Partai X: Hidup Layak Itu Hak, Bukan Hadiah!
DPR Usul Guru Minoritas di Sekolah, Partai X: Keberagaman Itu Hak, Bukan Alat Kepatuhan Penguasa!
Satgasus Penerimaan Negara Ada Novel, Partai X: Harus Berani Usut Sampai ke Meja Penguasa!
MK Longgarkan Aturan Pemantau Pemilu, Partai X: Demokrasi Dipantau Boleh, Tapi Dicurangi Masih Dibiarkan!

menerima uang, memegang kas, mencatat sendiri transaksi, sekaligus mengaudit dirinya sendiri.

Dalam bahasa audit, ini bukan sekadar rawan — ini namanya fraud waiting to happen.

Dan ketika bendahara = kasir, maka:

  • Tidak ada check and balance
  • Tidak ada pemisahan fungsi
  • Tidak ada independensi penerimaan
  • Tidak ada akuntabilitas

Hasilnya jelas: penerimaan lemah, kebocoran besar, dan rakyat yang menjadi majikan kehilangan kendali.

Menkeu Nyindir Media, Tapi Menolak Memperbaiki Sistem

Di satu sisi, Purbaya menyindir media sebagai “mingkem”, seakan-akan kritik yang kurang vokal adalah penyebab ekonomi melemah.
Tetapi di sisi lain, ia menolak pembentukan BPN yang menjadi salah satu program hasil terbaik cepat Prabowo-Gibran, yaitu:

Reformasi sistem penerimaan negara dengan membentuk Badan Penerimaan Negara yang independen.

BPN ini bukan gagasan kosmetik.
Ia lahir karena Indonesia sudah terlalu lama menderita akibat sistem penerimaan yang:

  • campur aduk,
  • tidak terpisah secara institusional,
  • dan dikendalikan satu orang: Menteri Keuangan.

Di banyak negara maju, penerimaan negara dipisah dari pembelanjaannya. Indonesia masih memaksa sistem lama, yang justru membuat kontrol publik lemah.

Alih-alih menjalankan agenda Presiden, Purbaya memilih mempertahankan status quo dan menolak reformasi struktural.
Ironisnya: ia sibuk menyalahkan media, bukannya memperbaiki institusi.

Negara Ini Rumah Rakyat — Bukan Gerai Retail

Jika negara kita diibaratkan rumah, maka:

  • Rakyat adalah pemilik rumah.
  • Pemerintah adalah asisten rumah tangga/pelayan publik.
  • Uang negara adalah uang dapur milik rakyat.

Jika pelayan publik memegang semua uang, mencatat sendiri transaksi, dan mengaudit dirinya sendiri, maka itu bukan rumah, itu minimarket.

Dan jika Menkeu masih menyatukan fungsi bendahara negara dan kasir negara, maka:

pelayan publik mencatat penerimaan sekaligus mengendalikan catatan keuangan, dan ujungnya pasti terjadi fraud.

Ini bukan teori, ini hukum alam dalam manajemen keuangan.

Masalahnya Bukan Media — Masalahnya Sistem Fiskal yang Kacau

Lemahnya ekonomi tidak pernah disebabkan oleh jurnalis yang “mingkem.”
Lemahnya ekonomi lahir dari:

  • sistem penerimaan negara yang bocor,
  • kebijakan fiskal tanpa kontrol,
  • pelayan publik yang memegang dua fungsi sekaligus,
  • dan lemahnya pemisahan lembaga negara dan lembaga pemerintah.

Ketika bendahara = kasir, maka rakyat kehilangan posisi sebagai majikan.
Pemerintah makan dari dapur rakyat, tapi bertindak seperti pemilik restoran.

Dan ketika Menkeu menyalahkan media, ia sedang menutupi kelemahannya sendiri.

Saatnya Menkeu Menyadari Siapa Majikannya

Negara ini bukan milik Menkeu, bukan milik pejabat, bukan milik elite.
Negara ini rumah rakyat.
Dan kalau pelayan rumah lupa siapa majikannya, maka bukan hanya ekonomi yang melemah kepercayaan publik pun runtuh.

Sebelum menyindir media, Purbaya seharusnya bertanya:

Apakah saya sudah mengelola keuangan negara dengan benar?
Atau saya hanya jadi kasir yang mengaku sebagai bendahara?

Karena masalah terbesar negeri ini bukan jurnalis yang diam,
tetapi pelayan publik yang tidak tahu perannya.

Dan selama bendahara dan kasir tetap disatukan, rakyat akan terus membayar harga dari sebuah sistem yang cacat sejak lahir.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article 100.000 Lansia Dapat Makanan, Partai X: Tapi Rakyat Masih Butuh Lebih!
Next Article Ketika Pemerintah Lebih Suka Berjanji daripada Bekerja

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

MPP Dipercepat Demi Program Presiden, Partai X: Layanan Publik Jangan Jadi Alat Pencitraan Menuju 2029!

August 5, 2025
Koalisi Sipil Minta KPU Batalkan Aturan, Partai X: Aturan Pejabat Jangan Kalahkan Suara Rakyat!
Pemerintah

Koalisi Sipil Minta KPU Batalkan Aturan, Partai X: Aturan Pejabat Jangan Kalahkan Suara Rakyat!

September 17, 2025
Pemerintah

Patriot Bond Untungkan Danantara, Partai X: Rakyat Cuma Terima Risiko!

October 9, 2025
Ekonomi

Prabowo Ungkap Kerugian Judi Online, Partai X: Negara Harus Bertindak Tegas!

November 4, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.