Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute
beritax.id – Dalam kondisi struktur ketatanegaraan yang sehat, rakyat idealnya berada dalam satu posisi: subjek yang sadar, kritis, dan aktif membangun negara. Namun ketika sistem politik dan ketatanegaraan berjalan salah kaprah dalam waktu lama, rakyat tidak lagi berdiri pada satu titik yang sama. Mereka terfragmentasi bukan oleh ideologi, tetapi oleh cara merespons kerusakan negara itu sendiri.
Dalam kerangka ini, rakyat dapat dipetakan ke dalam lima kategori sikap sosial, yang secara metaforis dapat dianalogikan dengan proses biologis pada tubuh yang sakit: set, belatung, iritasi, sel imun, dan regenerasi jaringan.
Analogi ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan untuk membaca realitas secara jujur: siapa berperan apa dalam situasi negara yang rusak.
1. Rakyat sebagai Set (Bau Kerusakan)
Kategori pertama adalah rakyat yang senang mendengar, menyebarkan, dan mengonsumsi cerita kerusakan negara. Mereka menikmati narasi tentang negara gagal, hukum rusak, elite busuk, dan masa depan suram—tanpa dorongan untuk melangkah lebih jauh dari sekadar cerita.
Ibarat bau (set), mereka bukan pelaku kerusakan, tetapi menjadi penanda yang terus menguar. Kehadiran mereka membuat semua orang sadar bahwa ada yang salah, namun berhenti sampai di situ.
Contoh konkret:
- Warga yang rajin membagikan berita skandal dan kegagalan negara di media sosial, tetapi tidak pernah membaca utuh atau mendiskusikan solusi.
- Penikmat diskusi politik yang hanya tertarik pada konflik, bukan pada gagasan.
- Komunitas yang obrolannya selalu “negara ini rusak”, tetapi menutup telinga ketika diajak bicara soal perbaikan sistem.
Masalahnya, jika terlalu lama berhenti di fase “bau”, publik akan terbiasa mencium kerusakan tanpa lagi merasa perlu menyembuhkannya.
2. Rakyat sebagai Belatung (Hidup dari Kerusakan)
Kategori kedua lebih serius: rakyat atau kelompok yang hidup dari masalah akibat kerusakan negara. Mereka memperoleh keuntungan—ekonomi, politik, atau popularitas—dari kondisi yang tidak sehat.
Seperti belatung, mereka tidak menciptakan bangkai, tetapi tumbuh subur di dalamnya.
Contoh konkret:
- Aktor politik yang menjadikan krisis sebagai bahan kampanye tanpa niat menyelesaikan.
- Media atau konten kreator yang secara konsisten memonetisasi cerita kebusukan negara karena “yang rusak lebih laku”.
- Aktivis instan yang menjual kemarahan publik, tetapi menghilang saat diajak masuk ke pembahasan solusi struktural.
Dalam kategori ini, kerusakan negara justru harus dipelihara, karena jika negara membaik, sumber keuntungan mereka mengering.
3. Rakyat sebagai Iritasi (Marah Tanpa Belajar)
Kategori ketiga adalah rakyat yang marah, frustrasi, dan emosional, tetapi menolak belajar dan berpikir sistemik. Mereka tidak hidup dari masalah, tetapi terjebak dalam reaksi spontan yang berulang.
Ibarat iritasi, mereka menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah, namun reaksinya justru memperparah rasa sakit tanpa menyembuhkan.
Contoh konkret:
- Warga yang selalu tersulut emosi setiap ada isu politik, tetapi alergi pada diskusi panjang dan mendalam.
- Penolak semua institusi, semua konstitusi, semua sistem, tanpa mau mempelajari alternatifnya.
- Sikap “yang penting ganti orang”, tanpa menyentuh persoalan sistem.
Iritasi membuat tubuh terasa hidup, tetapi jika dibiarkan, ia hanya menguras energi tanpa menghasilkan pemulihan.
4. Rakyat sebagai Sel Imun (Belajar dan Menyusun Solusi)
Kategori keempat inilah yang jarang terlihat dan jarang viral: rakyat yang mau belajar, berpikir, dan menyusun solusi. Mereka tidak selalu lantang, tidak selalu populer, tetapi bekerja di lapisan yang menentukan.
Ibarat sel imun, mereka mendeteksi penyakit, memahami polanya, dan merancang respons yang tepat.
Contoh konkret:
- Akademisi, intelektual, dan warga yang mempelajari hukum tata negara, ekonomi politik, dan desain kelembagaan.
- Komunitas pendidikan politik yang tidak hanya mengkritik, tetapi menyusun peta jalan perbaikan.
- Individu yang bersedia menghabiskan waktu memahami konstitusi, bukan sekadar mengutuknya.
Sel imun tidak membuat gaduh. Tetapi tanpa mereka, tubuh bangsa tidak punya daya tahan.
5. Rakyat sebagai Regenerasi Jaringan (Membangun Sistem Baru)
Kategori kelima adalah yang paling langka dan paling menentukan: rakyat yang tidak hanya mengkritik dan belajar, tetapi berani membangun sistem baru. Mereka masuk ke wilayah desain ulang—konstitusi, kelembagaan, dan arah negara.
Mereka adalah regenerasi jaringan: bukan sekadar menyembuhkan luka lama, tetapi menumbuhkan jaringan baru yang lebih sehat.
Contoh konkret:
- Inisiatif penyusunan rancangan akademik dan naskah perubahan konstitusi.
- Gerakan kenegarawanan yang menempatkan nilai, etika, dan sistem di atas elektabilitas.
- Upaya membangun arsitektur negara yang melampaui tambal-sulam kebijakan.
Regenerasi jaringan selalu lambat, sunyi, dan melelahkan. Tetapi tanpa fase ini, tubuh hanya akan sembuh sementara, lalu sakit kembali.
Kita Sedang Berada di Kategori yang Mana?
Negara yang rusak tidak otomatis mati. Ia bisa bertahan lama dalam kondisi sakit—terutama jika terlalu banyak warganya berhenti di fase set, belatung, atau iritasi, dan terlalu sedikit yang mau menjadi sel imun dan regenerasi jaringan.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi “siapa salah”, tetapi:
di kategori mana kita memilih berdiri?
Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa keras kita mengeluh tentang kerusakan, melainkan oleh seberapa banyak dari kita yang bersedia naik kelas dari penonton krisis menjadi arsitek pemulihan.



